Rabu, 13 Juli 2011

ONE NIGHT IN IBIS

Anak muda memang penuh hasrat meski baru pertama bertemu walau tampaknya ia banyak diam seperti terbengong tapi dapat kubaca keinginannya yang besar untuk meluapkan hasratnya yang terpendam. entah apa penampilanku cukup memancing hasratnya aku hanya seorang biasa tak terlalu tampan dalam usiaku yang sudah kepala empat ini tapi mungkin saja aku menyerupai sosok idamannya. kupandangiia mulai menyedot jus mangga pesanannya bibirnya sungguh sexy aku membayangkan bagaimana bibir itu bisa memberi sensasi yang dahsyat kalau sudah di kamar nanti. ia melirik ke arahku sorot matanya seperti mengatakan betapa sudah tak sabar untuk segera menumpahkan hasratnya. aku tersenyum ia juga tersenyum melengkapi lirikannya yang nakal. waktu terus bergulir dan bahan obrolan kami makin habis apalagi yang bisa dilakukan kenapa harus menunggu lagi lalu kuajak ia kekamar saja. " ke kamar yuk..." " ayo deh bang" di lift kebetulan tak ada orang lain hanya kami berdua, kulingkarkan tanganku memeluknya dari belakang sambutannya sungguh hangat ia mendekap dua tanganku seperti ingin merasakan kehangatan itu lebih lama. kuusapkan pipiku ke wajahnya dapat kulihat di dinding kaca dalam lift ia memejamkan mata, sampai bel berbunyi kami sudah berada di lantai 5. sepanjang koridor menuju kamar ia kurangkul mungkin ada yang melihat kami dari kejauhan di lorong itu tapi masa bodohlah. Andri duduk di ranjang menyalakan TV dengan remote kudekati ia menggapai menarikku mendekat, meraba raba bokongku dan tangannya yang lain mengelus bagian depan. " mau ...?" tanyaku, ia hanya mengangguk sambil terus menatap mataku. wow aku terangsang. perlahan ia buka gesper ikat pinggangku lalu membuka retsluting memasukan tangannya dan mulai meremas remas. tak dapat kutahan aku merintih pelan saat kenikmatan itu mulai menjalar dari selangkangan keseluruh tubuhku. masih setengah ngaceng ia mengeluarkan kontolku memegang menimang nimang dalam genggamannya tak lama kemudian darah terpompa kuat oleh jantungku yang makin deg-degan dan mengeras. celanaku telah turun hampir sampai lutut sedang celana dalamku persis di tengah paha kini ia mengocok kocoknya pelan, nafasku makin dalam dan cepat. kurengkuh kepalanya dan tanganku lalu mengacak acak rambutnya. getaran getaran ini terus menggelitik sarafku dengan jutaan kenikmatan yang terus susul menyusul tanpa sadar mulutku mendesah desah. sambil meremas remas dua bolanya Andri telah memasukan kontolkuke mulutnya berusaha menyedot tiap tetes cairan di dalamnya. kutekan kepalanya lebih merapat dan kontolku masuk menyumbat kerongkongannya. aku baru sadar ia meronta lepas dan memandangku dengan pandangan sayu. kurebahkan tubuhku di sampingnya sambil mengatur nafas kuelus punggungnya, "aku mandi dulu ya, engkau mau mandi juga...?", ia hanya menengok memandangiku sebentar dan mulai melepas tangannya yang dari tadi belum lepas mencengkam batang kontolku. kulepas pakaianku, telanjang aku melangkah ke kamar mandi. selesai mandi, ia di ranjang telah melepas celana jeans nya sedang mengelus ngelus kontol di balik celana dalam lycra yang dipakainya kancing kemejanya sudah terbuka, aku melangkah mendekatinya tanpa sehelai kain menutup tubuhku ia tersenyum dan bangkit berdiri, "aku mandi juga ya bang..." "ya baiknya engkau mandi juga" sementara ia mandi aku beres beres. telanjang ia keluar dari kamar mandi melempar handuk ke lantai dan segera kami menyatu dalampelukan saling melumat bibir meraba bagian mana saja yang ingin diraba bgiku pantatnya yang paling asyik untuk diraba. acara di semua saluran TV tak menarik tentu saja aku lebih tertarik pada anak muda ini dan ia juga tampaknya tak sabar untuk habis habisan denganku malam ini. *** pergumulan aku dan dia menyalakan hasrat membakar birahi keindahan tubuh yang telanjang sungguh menggelitik indra. sentuhan tiapcentimeter persegi kulit dengan kulit disertai kasar halusnya rambut memberi kenikmatan luar biasa. jemari jalin menjalin remasan demi remasan memicu rintihan dan erangan surgawi. puting puting dada kami sama mengeras dan mungkin memerah karena pijitan plintiran dan sedotan maupun jilatan. tak bisa tidak kontol menegang penuh berdenyut denyut terasa hingga ke ubun ubun. sudah pasti kontolnya masuk ke mulutku dan kukocok semampuku agar ia merasakan nikmat, juga sebaliknya mulut imutnya itu kemasukan kontolku menyodok hingga ke kerongkongan sampai ia terbatuk batuk, tentu saja kami melakukan sodomi malam itu tiga kali. malam terus berlaju dan waktu menyudahi permainan kami ....habis ...terkulai ...aku merasa nyeri di ulu hati. kulihat ia terisak ada air mata meleleh dari sudut matanya. keringatkami segera mengering oleh dinginnya AC. di antara isaknya kutarik pelan pelan kontolku yang telah lemas
"engkau menangis ?"
ia membuang muka memunggungiku
"sakit ?" ia diam saja "menyesal ?" ia menggeleng "besok lagi ya..." ia mengangguk "sini kupeluk..." tak lama ia sudah meringkuk dalam pelukku. kontol kami sama sama terkulai menyusut. dalam pelukku di dadaku kuelus pelan rambutnya tanpa kata kata lagi sesekali kumainkan dengan jari bibirnya, kumasukkan telunjuk ke mulutnya dan segera ia menyedotnya pelan, asyik juga. tangannya tak dapat lepas menggenggam kontolku yang lemas kelelahan, terus.... jariku mengaduk aduk isi mulutnya ke sela sela gigi, lidah dan mencantol ujung bibirnya hingga jariku menonjol di pipinya. menelusuri wajahnya yang imut dan bertukar sensasi hingga kantuk melingkupi kami berdua jatuh tertidur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar